Pengakuan Jay Idzes tentang Strategi Menghadapi Lautaro Martinez dan Romelu Lukaku di Serie A, Arahan Fabio Grosso, dan Latar Belakang Sassuolo
2026-02-28 18:08:48 By Ziga
Kapten Timnas Indonesia, Jay Idzes, membuka lembaran kisah perjalanannya meniti karier di Serie A bersama US Sassuolo Calcio. Bek berusia 25 tahun itu menegaskan, keputusannya merapat ke Stadion Mapei pada bursa transfer musim panas lalu bukan langkah spontan, melainkan hasil pertimbangan matang dan diskusi panjang dengan orang-orang terdekat.
Sebelum menjatuhkan pilihan, Idzes aktif mencari gambaran menyeluruh tentang klub yang berjuluk Neroverdi tersebut. Ia berdiskusi dengan Alfred Duncan, mantan rekan setimnya di Venezia FC, serta Fali Candé. Dari obrolan itu, Idzes ingin memastikan bahwa Sassuolo memiliki visi jelas dan proyek jangka panjang yang sejalan dengan ambisinya.
“Saya punya peluang ke Sassuolo musim panas ini. Karena pernah bermain bersama Alfred Duncan di Venezia, saya bertanya kepadanya. Saya juga berbicara dengan Fali Candé yang datang ke sini,” ujar Idzes dalam kanal YouTube resmi Serie A.
Menurutnya, pembahasan mereka tak sekadar soal nama besar klub, melainkan lebih dalam menyentuh arah dan fondasi internal tim. Ia ingin memahami betul bagaimana peta jalan Sassuolo ke depan sebelum mengambil keputusan besar dalam kariernya.
Memasuki musim keduanya di kasta tertinggi Liga Italia, Idzes merasakan proses adaptasi berjalan alami. Atmosfer kompetisi yang keras justru mempercepat kematangannya sebagai bek tengah. Setiap pekan, ia dipaksa menghadapi penyerang papan atas yang menguji konsistensi dan ketangguhannya.
Deretan nama seperti Moise Kean, Romelu Lukaku, hingga kapten Inter Milan, Lautaro Martínez, menjadi “ujian” rutin bagi Idzes. Mengawal para striker elite itu ia sebut sebagai ruang belajar terbaik untuk mengasah naluri bertahan.
“Musim pertama saya dimulai dengan laga tandang melawan Fiorentina dan saya langsung berhadapan dengan Moise Kean. Dia kuat dan punya kualitas tinggi,” ungkapnya.
Ia menambahkan, tantangan datang silih berganti setiap pekan. “Kadang Lukaku, kadang Lautaro. Lawannya selalu berbeda, tapi levelnya sama-sama tinggi. Dari situ saya belajar banyak.”
Di balik perkembangan pesatnya, Idzes tak lupa memberi kredit kepada pelatih Fabio Grosso dan staf kepelatihan Sassuolo. Meski sebelumnya terbiasa bermain dalam sistem empat bek di Belanda, ia mengaku terbantu lewat sesi-sesi taktikal intens yang membuatnya cepat memahami skema permainan tim.
Kini, duetnya di jantung pertahanan bersama Tarik Muharemović dinilai semakin padu. Keduanya kian solid dalam menjaga garis, membaca pergerakan lawan, dan menentukan momen yang tepat untuk naik atau bertahan. Statistik pun berbicara: Idzes selalu tampil penuh selama 90 menit dalam 25 pertandingan Serie A musim ini.
“Peran saya di sisi kanan bek tengah sangat penting untuk memastikan koordinasi dengan bek kiri berjalan baik. Saya rasa kerja sama kami dengan Tarik sudah cukup solid,” katanya.
Baginya, kunci pertahanan modern terletak pada kekompakan. Lini belakang harus bergerak serempak—naik saat membangun permainan dari bawah dan turun bersama ketika ancaman datang. “Kami harus kompak, tetap satu kesatuan, baik saat bertahan maupun ketika tim menyerang,” tutup Idzes.
Sedang Tayang
🔥 Populer